JAKARTA (Astara.news) – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, menegaskan pentingnya menjaga lisan sebagai fondasi membangun solidaritas dan kebersamaan, khususnya di lingkungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Pesan tersebut disampaikannya saat kajian yang digelar di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Dalam kesempatan itu, Dzulfikar mengingatkan bahwa setiap ucapan memiliki dampak besar terhadap harmoni organisasi maupun hubungan sosial.
“Lisan memiliki kekuatan besar. Kata-kata yang tidak dijaga dapat merusak ikatan kebersamaan yang telah dibangun susah payah,” ujarnya.
Ia mengimbau seluruh jajaran agar membiasakan komunikasi yang konstruktif, menyejukkan, dan tidak menjatuhkan. Menurutnya, setiap individu perlu memastikan bahwa apa yang disampaikan mampu membangun semangat kolektif, bukan sebaliknya.
Selain berdampak secara sosial, Dzulfikar juga menyoroti pertanggungjawaban moral dan spiritual dari setiap ucapan. Ia menegaskan bahwa menjaga lisan bukan sekadar etika pergaulan, melainkan bagian dari integritas diri sebagai aparatur negara.
“Setiap ucapan bukan hanya berdampak pada sesama, tetapi juga menjadi tanggung jawab moral di hadapan Tuhan Yang Maha Esa,” tegasnya.
Ia menilai, kebersamaan yang kokoh hanya dapat terwujud apabila setiap individu mampu menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat. Budaya komunikasi yang sehat, lanjutnya, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan pelayanan yang humanis dan empatik, terutama dalam pelindungan pekerja migran Indonesia.
Kajian tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bersama untuk mempererat persatuan, memperkuat integritas, serta membangun budaya komunikasi yang sehat dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat. (*)
