SEMARANG (Astara.news) — Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II di sejumlah wilayah Jawa Tengah difokuskan pada pembangunan infrastruktur jalan melalui betonisasi guna meningkatkan konektivitas dan perekonomian masyarakat desa.
Di Kabupaten Semarang, kegiatan dipusatkan di Dusun Kunci Putih, Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus. Betonisasi jalan penghubung antarkecamatan menjadi prioritas karena jalur tersebut merupakan akses vital bagi warga menuju kawasan industri.
Kepala Desa Jatirunggo, Fauzan, mengatakan pembangunan jalan ini akan berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Betonisasi jalan itu nantinya akan memperlancar arus lalu lintas dari Pringapus menuju wilayah Tuntang dan Bringin, tepatnya menghubungkan Desa Ngajaran dan Jatirunggo,” ujarnya.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menegaskan keberhasilan TMMD tidak hanya bergantung pada TNI dan pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat.
“Tidak kalah penting adalah dukungan masyarakat desa secara penuh,” katanya.
Pasiter Kodim 0714, Kapten CZi Sujadi, menjelaskan betonisasi dilakukan sepanjang 748 meter dengan lebar 3 meter dan ketebalan 15 cm.
“Total target volume 336,6 meter kubik,” ujarnya.
Selain pembangunan jalan, program juga mencakup perbaikan musala, penyuluhan bela negara, kamtibmas, pencegahan narkoba, layanan administrasi kependudukan, serta penyuluhan kesehatan. Program ini berlangsung selama 30 hari hingga 21 Mei 2026 dengan anggaran Rp416,28 juta.
Di Kabupaten Jepara, TMMD dilaksanakan di Desa Gelang, Kecamatan Keling, dengan pembangunan jalan rabat beton sepanjang 556 meter dan tambahan ruas 191 meter. Program ini juga mencakup rehabilitasi dua rumah tidak layak huni.
Pasiter Kodim 0719/Jepara, Kapten Inf Ngadino, menyampaikan bahwa kegiatan nonfisik juga menjadi bagian penting.
“Berbagai sosialisasi dan penyuluhan akan diberikan, meliputi program pembangunan, pembekalan pengetahuan dan wawasan, serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam berbangsa, bernegara, dan bela negara,” jelasnya.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan pembangunan harus merata hingga ke desa.
“TMMD adalah bukti bahwa TNI tidak pernah jauh dari rakyat. Kita tidak ingin pembangunan hanya terpusat di kota. Pembangunan harus menyentuh akar rumput, harus terasa hingga teras-teras rumah warga desa,” ujarnya.
Sementara di Kabupaten Kendal, program menyasar Desa Bringinsari, Kecamatan Sukorejo, dengan pembangunan jalan rabat beton sepanjang 700 meter. Warga setempat menyambut baik program tersebut.
“Saya bersama warga lainnya sangat bahagia dengan adanya program ini, karena nantinya akan mempercepat akses jalan untuk meningkatkan perekonomian warga,” kata Munif, warga setempat.
Komandan Kodim 0715 Kendal, Letkol Inf Bagus Setyawan, menambahkan kegiatan nonfisik juga digelar.
“Kemudian untuk sasaran nonfisik ada sosialisasi atau penyuluhan, dengan tema wawasan kebangsaan, gotong royong, layanan administrasi kependudukan,” tuturnya.
Di Kabupaten Pati, TMMD dilaksanakan di Desa Gunungpanti, Kecamatan Winong, dengan pembangunan jalan sepanjang 950 meter, renovasi enam rumah tidak layak huni, pengeboran sumur pertanian, serta pembangunan enam titik MCK di Desa Godo.
Komandan Kodim 0718/Pati, Letkol Arm Timotius Berlian Yogi Ananto, menekankan pentingnya aspek lingkungan dalam program ini.
“Nanti kita rencanakan pada tanggal 2 Mei akan dilakukan penghijauan, kurang lebih sekitar 1.000 pohon. Intinya kita peduli, agar Pegunungan Kendeng tidak terjadi longsor lagi,” ujarnya.
Adapun di Kabupaten Rembang, TMMD difokuskan di Desa Waru, Kecamatan Rembang, dengan pembangunan jembatan dan akses pertanian, serta berbagai penyuluhan seperti bela negara, hukum, narkoba, KB, hingga pencegahan stunting.
Pemkab Rembang mengalokasikan anggaran Rp150 juta dari APBD, sementara dukungan dari APBD Provinsi mencapai Rp239,26 juta. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.(*)
