WONOSOBO (Astara.news) — Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menekankan pentingnya penguatan edukasi kesehatan mental bagi santri. Langkah ini menjadi upaya strategis dalam memitigasi risiko bullying, kekerasan, serta berbagai persoalan psikologis di lingkungan pondok pesantren.
Pernyataan tersebut disampaikan Nawal saat menjadi narasumber dalam kegiatan “Pesantren Ramah Perempuan dan Anak (Penak)” yang mengusung tema Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya di Pesantren, bertempat di Pondok Pesantren Al Mubarok, Kabupaten Wonosobo, Senin (15/6/2026).
Nawal menyoroti bahwa kesehatan mental kini menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, di tengah percepatan perubahan sosial dan perkembangan teknologi, pembangunan ketahanan emosional menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang tangguh.
“Kesehatan mental ini menjadi salah satu isu yang terus kita berikan penguatan,” tegas Nawal.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan rencana perluasan program edukasi ini agar tidak hanya menyasar pesantren, tetapi juga diintegrasikan dalam lingkungan sekolah.
“Bukan hanya di pesantren, tapi juga nanti di beberapa sekolah, kami akan mengadakan edukasi kesehatan mental ketika masa orientasi siswa,” ujar penulis buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual tersebut.
Nawal menambahkan bahwa generasi Z menghadapi dinamika tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, pendampingan yang tepat diperlukan untuk memperkuat daya tahan mental di tengah budaya serba instan.
“Jadi harapannya dalam situasi di mana Gen Z yang apa-apa serba instan, untuk resiliensi emosinya ini perlu ada penguatan-penguatan dan pembinaan,” jelas istri Wakil Gubernur Jawa Tengah tersebut.
Upaya Preventif dan Pembentukan Satgas
Dalam kesempatan yang sama, Nawal turut menyoroti data Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah yang mencatat adanya 30 kasus kekerasan di lingkungan pesantren sepanjang periode 2019 hingga 2025. Data tersebut menjadi refleksi perlunya penguatan sistem pengawasan dan perlindungan.
Sebagai langkah nyata, pihaknya mendorong pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying dan antikekerasan di seluruh pondok pesantren di Jawa Tengah yang berjumlah 5.451 lembaga. Inisiatif ini sejalan dengan arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin.
Nawal berharap, kehadiran satgas dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan ekosistem pesantren yang aman dan ramah, mengingat populasi santri di Jawa Tengah yang mencapai 535.940 orang.
Salah satu santri peserta seminar, Dinara Kholidya Safina, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi ini memberikan pemahaman mendalam mengenai batas-batas perundungan dan pentingnya kesehatan mental.
“Dari seminar ini, saya bisa mengetahui lebih luas, mana bullying atau tidak, mengetahui mana-mana saja batasan bullying, dan menambah wawasan luas juga tentang pesantren ramah perempuan dan anak,” ungkap Dinara.(*)
