SEMARANG (Astara.news) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan anggaran sebesar Rp65,5 miliar pada 2026 untuk merehabilitasi jaringan irigasi tersier dan membangun irigasi perpipaan di 25 kabupaten. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian sekaligus meningkatkan produktivitas pangan.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur irigasi harus diprioritaskan pada wilayah yang memberikan manfaat langsung bagi petani, khususnya daerah yang membutuhkan dukungan pasokan air untuk kegiatan pertanian.
“Skala prioritasnya adalah irigasi-irigasi, yang langsung bersentuhan dengan pertanian di wilayah kita,” ujar Luthfi, saat menghadiri Parade Alat dan Mesin Pertanian di Lapangan Tarubudoyo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (3/11/2026).
Luthfi juga meminta kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan jaringan irigasi yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat secara optimal.
“Rekan-rekan gapoktan nanti tolong lakukan koordinasi dengan para bupati dan wali kotanya. Wilayah mana yang sudah dimasuki, kemudian sesuai perintah saya, harus dirawat,” tegasnya.
Selain pembangunan jaringan irigasi, Pemprov Jateng bersama pemerintah kabupaten/kota juga melakukan pemetaan kebutuhan air pertanian. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi dampak kekeringan, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air.
“Dampak kekeringan pun sudah kita mitigasi. Bupati dan wali kota lewat dinas pertaniannya sudah melakukan mitigasi, mana yang sumurisasi, mana yang pipanisasi, mana tanah tadah hujan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Opik Mahendra, menjelaskan bahwa program tersebut meliputi rehabilitasi 334 titik jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 titik irigasi perpipaan.
“Total anggaran yang dikeluarkan adalah Rp65,5 miliar. Apabila dikonversikan berdasarkan panjang pekerjaan, program tersebut setara dengan pembangunan dan rehabilitasi sekitar 50 kilometer jaringan irigasi,” jelas Opik.
Menurutnya, panjang jaringan irigasi pada setiap lokasi berbeda-beda, disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi lahan pertanian setempat.
Saat ini, pekerjaan masih berada dalam tahapan pengadaan dan pelaksanaan konstruksi. Pemprov Jateng menargetkan sejumlah titik rehabilitasi jaringan irigasi dapat diresmikan pada akhir 2026.
Melalui program tersebut, Pemprov Jateng berharap ketersediaan air pertanian semakin terjamin, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan di Jawa Tengah.(*)
