PEKALONGAN (Astara.news) — Sekolah di Kota Pekalongan didorong tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga tempat praktik pengelolaan air dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Upaya tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan dengan Blue Deal Belanda.
Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri, mengatakan, murid dan guru akan dikenalkan dengan pengelolaan air melalui pembelajaran, praktik sederhana, hingga pengembangan kreativitas di lingkungan sekolah.
“Bagaimana pengelolaan manajemen air bisa masuk dalam ekstrakurikuler maupun intrakurikuler, terutama untuk memperkuat konsep pembelajaran STEM, yaitu Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika,” jelasnya saat dikonfirmasi di kantornya, Rabu (23/9/2026).
Menurut Mabruri, sekolah juga didorong menjadi ruang praktik pengelolaan air. Salah satu bentuknya yakni melalui pengembangan prototipe mini, seperti sistem pompa dan pengelolaan air sederhana.
Praktik tersebut, lanjutnya, dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa, khususnya di sekolah yang menghadapi persoalan genangan dan banjir. Dengan demikian, persoalan lingkungan di sekitar sekolah dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mendorong kreativitas antarsekolah. Edukasi mengenai pengelolaan air telah dilakukan melalui kegiatan yang melibatkan 150 perwakilan guru dan pelajar tingkat SD-SMP se-Kota Pekalongan.
“Selain itu, Blue Deal turut mendorong adanya lomba kreativitas dan praktik baik antarsekolah, terkait kepedulian lingkungan dan pengelolaan air,” terangnya.
Mabruri menjelaskan, Blue Deal lebih banyak berperan sebagai konsultan yang memberikan pendampingan, pertimbangan, saran, arahan, dan edukasi. Sementara implementasi program akan lebih banyak dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dindik.
Kerja sama tersebut direncanakan berlanjut hingga 2030. Bentuk kegiatan dan pembagian kontribusi antara Dindik Kota Pekalongan dan Blue Deal akan diperinci lebih lanjut.
“Kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat budaya peduli air dan lingkungan sekaligus membekali generasi muda, dengan pengetahuan serta keterampilan menghadapi tantangan perubahan iklim,” tegasnya.
Sementara itu, Project Manager Blue Deal, Marcel, mengatakan pengalaman Belanda dalam menghadapi tantangan pengelolaan air dapat menjadi pembelajaran bagi Kota Pekalongan. Menurutnya, pengelolaan air perlu dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
“Pengelolaan air harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Perubahan perilaku juga penting, termasuk membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai,” ungkap Marcel.
Ia menambahkan, kondisi Kota Pekalongan memiliki tantangan tersendiri sehingga diperlukan langkah strategis yang dimulai dari pemahaman terhadap wilayah yang rentan.
“Edukasi sejak sekolah dinilai menjadi bagian penting, dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan air dan lingkungan,” pungkasnya.(*)
