KABUPATEN SEMARANG (Astara.news) — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong Tim Reaksi Cepat (TRC) dan relawan kebencanaan di Jawa Tengah meningkatkan kecepatan respons dalam menangani bencana. Kecepatan personel menuju lokasi kejadian menjadi salah satu faktor penting untuk menekan jumlah korban maupun kerugian akibat bencana.
Hal tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah di BPKH Penggaron, Kabupaten Semarang, Minggu (6/9/2026).
Pelatihan diikuti ratusan personel dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, longsor, hingga tanah bergerak.
Ahmad Luthfi menegaskan bahwa kecepatan respons pada fase awal sangat menentukan efektivitas penanganan bencana. Kemampuan teknis personel, kata dia, harus diimbangi dengan kekompakan tim serta kesiapan menghadapi berbagai kondisi di lapangan.
Ia mencontohkan Jepang yang memiliki sistem respons bencana dengan tingkat kecepatan tinggi. Dalam kondisi tertentu, tim penanganan bencana di negara tersebut ditargetkan telah tiba di lokasi sekitar 15 menit setelah kejadian.
“Kecepatan penanganan awal bencana Jepang itu nomor satu di dunia. Minimal di Jepang 15 menit sudah sampai di TKP. Di tempat kita masih di atas itu,” kata Luthfi.
Menurutnya, pelatihan menjadi salah satu instrumen untuk memangkas waktu respons sekaligus meningkatkan profesionalitas personel.
“Latihan itu perlu untuk meningkatkan profesionalitas dan teamwork, serta membiasakan diri dalam penanganan awal terkait tanggap bencana,” ujarnya.
Ahmad Luthfi berharap peningkatan kapasitas tidak hanya berdampak kepada personel yang mengikuti pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat ditularkan kepada personel lain di daerah masing-masing.
“Pelatihan itu 60 persen dari pelaksanaan tugas personel dan relawan tanggap bencana,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Tim Reaksi Cepat (TRC) Bustanoel Arifin yang akrab disapa Arifin mengatakan, penguatan kapasitas personel merupakan bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi berbagai karakter bencana.
Menurut Arifin, TRC harus memiliki kemampuan mengenali kondisi di lapangan, mengambil keputusan secara cepat, serta membangun koordinasi dengan berbagai unsur terkait sejak awal kejadian.
“TRC harus siap bergerak kapan pun dibutuhkan. Yang kita bangun bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kekompakan, disiplin, komunikasi dan koordinasi agar ketika terjadi bencana, respons di lapangan bisa lebih cepat dan tepat,” kata Arifin.
Ia menambahkan, personel TRC di berbagai daerah memiliki peran strategis sebagai bagian dari mata rantai penanganan bencana. Karena itu, pelatihan dan peningkatan kapasitas harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kita ingin setiap personel memahami tugasnya masing-masing, tetapi tetap bekerja sebagai satu tim. Kecepatan tanpa koordinasi bisa menimbulkan persoalan, sehingga keduanya harus berjalan bersama,” ujarnya.
Kekeringan dan Kebakaran Jadi Perhatian
Di tengah penguatan kapasitas TRC, Ahmad Luthfi juga menyampaikan perkembangan situasi kebencanaan terkini di Jawa Tengah.
Kekeringan menjadi salah satu potensi bencana yang mendapat perhatian. Dampaknya tidak hanya terhadap ketersediaan air bagi sektor pertanian, tetapi juga kebutuhan air bersih masyarakat.
Kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, bangunan, permukiman, hingga kawasan tempat pembuangan akhir (TPA).
Berdasarkan data BPBD Provinsi Jawa Tengah per 30 Agustus 2026, tercatat 615 kejadian kebakaran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 282 kejadian merupakan karhutla, sedangkan 333 kejadian lainnya berupa kebakaran gedung dan permukiman.
Total kerugian akibat berbagai kejadian kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp38,5 miliar.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah daerah di Jawa Tengah telah melakukan pemetaan wilayah rawan, baik yang berkaitan dengan lahan pertanian maupun kebutuhan air bersih.
“Semua sudah kita petakan agar dampak kekeringan tidak melanda terlalu dalam di daerah kita,” jelas Luthfi.
Pemprov Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota juga terus menyalurkan bantuan air bersih. Hingga saat ini, sekitar 8,5 juta liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan.
Koordinasi dengan TNI dan Polri juga terus dilakukan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Ancaman kebakaran di kawasan TPA turut menjadi perhatian. Kebakaran TPA Putri Cempo di Kota Surakarta menjadi salah satu peristiwa yang perlu dijadikan pembelajaran dalam memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan.
Ahmad Luthfi meminta seluruh kepala daerah meningkatkan mitigasi serta melakukan pengecekan secara berkala terhadap kondisi wilayah masing-masing.
“Surat edaran sudah dibuat oleh Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah, dan ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.
Menurutnya, mitigasi tidak boleh dilakukan setelah bencana terjadi. Pemetaan risiko, pengecekan kondisi lapangan, kesiapan personel, serta koordinasi lintas sektor perlu dilakukan sejak dini.
Waspadai Dampak Abu Vulkanik
Selain kekeringan dan kebakaran, masyarakat Jawa Tengah juga diminta mewaspadai potensi dampak abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Meski belum ada laporan abu vulkanik yang mencapai wilayah Jawa Tengah, pemerintah meminta masyarakat dan seluruh unsur penanganan bencana meningkatkan kewaspadaan.
“Belum ada laporan pasti terkait dampak abu vulkanik di wilayah kita. Tapi seandainya sampai wilayah kita, masyarakat kita imbau untuk mengenali masker,” kata Luthfi.
Penguatan TRC pada akhirnya tidak sekadar berkaitan dengan jumlah personel, tetapi juga memastikan setiap anggota memiliki kesiapan bergerak, memahami tugas, mampu bekerja dalam tim, serta hadir dengan cepat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Dengan ancaman bencana yang terus berkembang dan memiliki karakter berbeda-beda, kecepatan respons menjadi bagian penting dalam upaya melindungi masyarakat serta menekan dampak bencana sejak menit-menit pertama.(*)
