JAKARTA (Astara news) — Perkumpulan masyarakat perantau yang tergabung dalam Paguyuban Jawa Tengah (PJT) menyelenggarakan pagelaran seni bertajuk Gebyar Harmoni Budaya di Pelataran Blok M Hub, Jakarta Selatan, pada Jumat (19/6/2026) malam. Acara ini digagas sebagai jembatan silaturahmi sekaligus wujud nyata pelestarian identitas nusantara di tengah dinamika Ibu Kota.
Panggung malam tersebut menghadirkan kolaborasi lintas budaya yang menarik, dengan sorotan utama berupa pementasan dua pewayangan dari kultur yang berbeda. Penonton disuguhkan penampilan wayang kulit gagrak (gaya) Betawi yang dibawakan oleh Dalang Ki Sukadana, serta wayang kulit gagrak Jawa oleh Dalang KRA Ki Gunarto Gunotalijendro. Selain panggung pewayangan, acara turut diisi oleh pementasan fragmen teater kolaborasi.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, tampak hadir langsung di lokasi untuk memberikan dukungan moril kepada warga perantauan asal wilayahnya. Agenda budaya ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 Sutiyoso (Bang Yos), Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Sattiri, serta Duta Besar Bahrain untuk Indonesia Ahmed Abdulla AlHajeri.
Dalam sambutannya, Ahmad Luthfi menilai pementasan seni ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Jawa Tengah memiliki daya adaptasi yang tinggi di tanah rantau, tanpa harus menanggalkan akar sosiokultural mereka.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Masyarakat di perantauan telah membanggakan bagi Jawa Tengah, ikut membangun wilayah ia tinggal sekarang, namun tetap ingat tanah leluhur,” ujar Luthfi.
Pada kesempatan yang sama, Luthfi juga memaparkan secara singkat mengenai eskalasi kemajuan di Jawa Tengah yang saat ini terus berkembang pesat, termasuk menguatnya posisi provinsi tersebut sebagai salah satu magnet investasi strategis, baik bagi penanam modal dalam negeri maupun mancanegara.
Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, Leles Sudarmanto, menjelaskan bahwa pementasan wayang kulit dipilih secara khusus karena statusnya sebagai produk peradaban sekaligus aset resmi negara. Ia mengingatkan bahwa merawat warisan tersebut merupakan tanggung jawab kolektif, terutama bagi generasi muda Jawa dan Betawi.
“Harmoni Budaya ini adalah kolaborasi seni budaya, antara wong Jawa dan Betawi. Maka dari itu kita terus upayakan, karena Gubernur DKI Jakarta bersama Gubernur Jawa Tengah juga kolaborasi. Hal-hal seperti ini penting sekali, Republik Indonesia ini perlu kolaborasi untuk menyamakan persepsi melalui budaya,” paparnya.
Lewat pagelaran ini, Paguyuban Jawa Tengah berharap diplomasi kebudayaan dapat terus dioptimalkan sebagai instrumen perekat persatuan, sekaligus mempertegas kontribusi nyata kaum perantau dalam membangun harmoni sosial di wilayah tempat mereka bermukim.(*)
