JAKARTA (Astara.news) – Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan skema layanan terpadu untuk mendukung kelancaran arus mudik serta perayaan Nyepi dan Idulfitri 1447 H/2026.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, masjid akan dioptimalkan sebagai pusat layanan publik melalui program Masjid Ramah Pemudik.
“Secara nasional, tercatat 6.859 posko Masjid Ramah Pemudik disiapkan di berbagai jalur mudik,” ujar Menag di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Melalui program ini, masjid di jalur mudik dibuka 24 jam dengan dukungan pengamanan area ibadah dan parkir, kebersihan toilet serta ketersediaan air wudhu, fasilitas pengisian daya gawai, ruang ibadah yang nyaman, area istirahat, air minum dan makanan ringan, hingga pusat informasi perjalanan.
Ekspedisi Masjid Indonesia 2026
Untuk memperkuat peran masjid sebagai rumah singgah umat, Kemenag juga meluncurkan Program Ekspedisi Masjid Indonesia (EMI) 2026. Program ini menampilkan praktik pelayanan masjid yang humanis dan inklusif selama masa mudik dan arus balik Lebaran.
EMI dilaksanakan melalui peliputan perjalanan di jalur mudik bersama Radio Elshinta. Kick-off dijadwalkan pada H-8 Idulfitri, dengan pelaksanaan H-7 hingga H+7 Lebaran atau 13–29 Maret 2026.
Masjid yang terlibat dibagi dalam sejumlah kategori, yakni Masjid Transit Utama, Masjid Buffer Kota, Masjid Kota Provinsi/Kabupaten, Masjid Ikonik Sejarah, serta Masjid Area Berisiko di titik pelabuhan, perbatasan, dan jalur rawan kemacetan.
Skema Toleransi Nyepi–Idulfitri di Bali
Kemenag juga menyiapkan pengaturan khusus menghadapi Hari Raya Nyepi di Bali yang jatuh pada 19 Maret 2026. Menurut Menag, apabila Idulfitri berlangsung pada 20 Maret 2026, pelaksanaan takbiran di Bali tetap diperbolehkan secara terbatas tanpa pengeras suara, tanpa arak-arakan kendaraan, serta dengan penerangan minimal sebagai bentuk toleransi antarumat beragama.
Namun jika Idulfitri jatuh pada 21 Maret 2026, maka pelaksanaan Nyepi dan takbiran dapat berjalan normal sesuai waktu masing-masing.
Menag menegaskan, koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar pelayanan masyarakat selama mudik dan perayaan keagamaan berlangsung aman, tertib, dan nyaman.
“Negara harus hadir memastikan umat dapat menjalankan ibadah sekaligus melakukan perjalanan mudik dengan aman dan manusiawi, dan masjid menjadi bagian penting dari pelayanan publik tersebut,” tandasnya.(*)
