SEMARANG, Astara.news – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut kawasan industri masih menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi daerah. Saat ini, terdapat sembilan kabupaten/kota di Jawa Tengah yang mengajukan pembentukan kawasan industri baru.
“Ada sembilan kabupaten/kota yang nanti akan mengajukan menjadi kawasan industri,” ujar Luthfi saat menerima Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI di Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (20/2/2026).
Sembilan daerah tersebut meliputi Kabupaten Rembang, Demak, Kendal, Batang, Brebes, Cilacap, Banyumas, Kebumen, serta Kota Semarang.
Menurut Luthfi, pengembangan kawasan industri tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap wilayah harus mengedepankan potensi unggulannya masing-masing agar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru terbentuk secara merata.
“Kawasan industri menjadi primadona untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi baru, tetapi harus berbasis potensi daerah,” tegasnya.
Selain penguatan kawasan industri, Pemprov Jateng juga fokus mendorong sektor UMKM yang jumlahnya hampir 4 juta unit. Luthfi menilai, UMKM harus menjadi penggerak ekonomi akar rumput sekaligus didorong naik kelas melalui pendampingan, akses permodalan, hingga perluasan pasar.
Di sektor ekonomi kreatif, Pemprov Jateng terus membuka ruang pertumbuhan baru. Sementara pada sektor pariwisata, lebih dari 1.000 desa wisata yang telah terbentuk akan diperkuat melalui pembinaan teknis, pengelolaan, pendanaan, serta promosi berkelanjutan.
“Seribu desa wisata sudah kita ciptakan. Tidak bisa kita lepas begitu saja. Harus ada pembinaan teknis, penguatan pemasaran, pendanaan, pengelolaan, dan promosi,” katanya.
Kunjungan Komisi VII DPR RI dinilai menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah, khususnya dalam penguatan iklim investasi.
Anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, menyatakan siap mengawal penguatan kawasan industri di Jawa Tengah, termasuk jika diperlukan penyempurnaan regulasi agar investasi semakin kondusif.
Menurutnya, Jawa Tengah kini menjadi tujuan relokasi industri dari wilayah lain seperti Jawa Barat dan DKI Jakarta. Faktor upah kompetitif serta ketersediaan lahan menjadi daya tarik utama.
“Jawa Tengah sekarang menjadi primadona investasi. Kawasan industri berkembang luar biasa, termasuk di Batang,” ujarnya.
Dengan tren tersebut, sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dinilai krusial agar tidak terjadi tumpang tindih regulasi yang justru menghambat investasi. (*)
