KPID Jateng Ajak Mahasiswa UMS Cakap Bermedia dan Kritis Bersuara

SOLO (Astara.news) – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) cakap bermedia dan kritis bersuara melalui Seminar Literasi Media di Solo, Jawa Tengah, Selasa. Acara yang dikemas dalam KPID Goes to Campus UMS tersebut di Gedung J Seminar 1 Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) UMS tersebut dihadiri sekitar 100 peserta. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber kompeten yakni Budi Santoso perwakilan dari salah satu dosen Ilmu Komunikasi UMS, Hendrik Hutabarat dan Anas Syahirul Alim perwakilan langsung dari KPID Jawa Tengah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan literasi mahasiswa mengenai regulasi penyiaran di Indonesia. Dalam sambutannya, Dekan FKI UMS, Dr Endah Sudarmilah ST MEng menyambut baik kegiatan ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran kritis mahasiswa dalam bermedia. Ia menyatakan materi yang disampaikan sangat kompeten dan relevan dengan ilmu komunikasi. “Dari acara ini akan ada sesuatu yang sangat berharga, khususnya untuk Prodi Ilmu Komunikasi. Kita akan lanjutkan dengan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) yang insya Allah akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” ujar Endah. Selain itu, menurut Endah kegiatan ini juga menjadi bukti komitmen FKI terhadap pendidikan yang menjadi salah satu Catur Dharma Perguruan Tinggi melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) untuk kerja sama yang berkelanjutan. Ia menjelaskan kerja sama tidak hanya pada sisi mahasiswa tetapi juga mencakup seluruh aspek Catur Dharma Perguruan Tinggi UMS. “Kerja sama ini akan mencakup pada Catur Dharma Perguruan Tinggi UMS yang meliputi Pendidikan, Pengabdian, Penelitian dan Al-Islam Kemuhammadiyahan,” jelasnya. Endah berharap melalui kegiatan ini, KPID dapat berbagi ilmu dengan mahasiswa dan memberikan insight serta edukasi untuk kemajuan bidang ilmu komunikasi di FKI UMS. “Al-Islam Kemuhammadiyahan itu kan salah satu ciri khasnya adalah dakwah dan itu tidak mungkin lepas dari KPID. Jadi harapannya nanti bisa dikolaborasikan dan dielaborasikan,” harap Dekan FKI itu. Koordinator Bidang Kelembagaan KPID Jawa Tengah Hendrik SP Hutabarat SE menekankan pentingnya kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi di berbagai bentuk media. “Di era disinformasi yang kian marak, literasi media menjadi keterampilan penting untuk membantu masyarakat bersikap kritis terhadap pesan-pesan media,” jelas Hendrik. Ia menjelaskan empat pilar literasi digital yang harus dikuasai, yakni digital skill (keterampilan teknis), digital culture (membangun nilai kebangsaan), digital ethics (kesadaran etika), dan digital safety (perlindungan dari ancaman siber). Hendrik juga menguraikan tugas KPID sebagai lembaga independen yang menjamin masyarakat memperoleh informasi layak, membangun persaingan sehat antarlembaga penyiaran, serta menampung pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran. Ia mengingatkan tujuh kekeliruan media yang harus diwaspadai oleh mahasiswa. “Tujuh kekeliruan yang biasa kita temukan, diantaranya Distorsi Informasi, Dramatisasi Fakta Palsu, Mengganggu ‘Privacy’, Pembunuhan Karakter, Eksploitasi Seks, Meracuni Benak Pikiran Anak-anak, Penyalahgunaan Kekuasaan,” katanya. Di samping itu, Dr Budi Santoso MSi, selaku narasumber kedua, membahas tentang kebebasan berpendapat dalam hukum di Indonesia. Ia merujuk pada UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang menjamin kemerdekaan pers dan hak menyampaikan informasi. “Kebebasan berbicara adalah hak, tetapi mempertanggungjawabkan segala informasi yang kita bagikan adalah kewajiban,” tegas Budi. Ia menjelaskan bahwa kebebasan berbicara bukan tanpa batas. Setiap penyampaian informasi harus menghindari fitnah, hoaks, ujaran kebencian, atau diskriminasi, serta tetap menjaga kepentingan publik. Lembaga penyiaran dan pers wajib menjalankan kode etik jurnalistik dan fungsi etika profesi. “Pers itu punya kode etik jurnalistik sebagai bagian dari etika profesi yang membatasi sekaligus membebaskan para wartawan,” ungkapnya. Anas Syahirul Alim, SSos MM, sebagai narasumber ketiga, menyoroti perkembangan media dan tantangan di dunia maya. Ia memaparkan data pengguna internet Indonesia yang didominasi Generasi Z (34,40 persen) dan Milenial (30,62 persen). Menurut Anas, salah satu tantangan yang dihadapi oleh KPID adalah turunnya minat Generasi Z (sebagai salah satu adopter media terbanyak) terhadap media konvensional seperti televisi dan radio. Menurutnya KPID telah melakukan langkah konkrit dalam menjawab tantangan tersebut. “Sejauh ini kami telah melakukan kampanye konvergensi media. Jadi sekarang radio wajib punya akun media sosial seperti instagram dan tiktok,” katanya. Anas mengingatkan enam jenis konten negatif berdasarkan UU ITE, yaitu pelanggaran kesusilaan, perjudian, penghinaan, pemerasan, penyebaran berita bohong, dan penyebaran kebencian berdasarkan SARA. Ia juga menyoroti fenomena perundungan di ruang digital (cyberbullying) yang dapat memicu kekerasan fisik di dunia nyata. “Menyebarkan berita bohong bisa dipidana penjara hingga enam tahun dan denda Rp1 miliar sesuai Pasal 28 Ayat 1 UU ITE No. 19 Tahun 2016,” jelas Anas. Ia mengajak mahasiswa sebagai bagian dari Society 5.0 untuk memanfaatkan teknologi digital secara bijak dan bertanggung jawab. Seminar yang dimoderatori Intan Nurlaili SSos dari KPID Jawa Tengah ini berlangsung interaktif dan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam memanfaatkan media secara cerdas dan kritis di era digital. (*)
Anastasia, Mahasiswa USM Juara 1 Bintang Radio RRI Semarang 2025

SEMARANG (Astara.news) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Semarang (USM), Anastasia Desti Putri Ivanka. Mahasiswi berbakat dari USM itu berhasil meraih juara 1 dalam ajang bergengsi Bintang Radio RRI Semarang 2025, setelah berhasil menyingkirkan para pesaingnya dalam babak final, Jumat (3/10/2025). Final kompetisi tersebut digelar meriah pada pukul 19.00 WIB di Auditorium RRI Semarang. Anastasia tampil penuh percaya diri dan memukau para dewan juri serta penonton dengan membawakan lagu penuh penghayatan berjudul ”Pernah Berjuang” yang dipopulerkan oleh Maria Pudesá. Ajang Bintang Radio RRI merupakan salah satu kompetisi menyanyi tertua dan paling bergengsi di Indonesia. Lomba tersebut menjadi wadah pencarian bakat penyanyi muda berbakat dari seluruh penjuru daerah, termasuk Semarang. Tidak hanya menilai kualitas vokal, kompetisi ini juga menekankan penjiwaan, teknik bernyanyi, serta kemampuan panggung dari setiap peserta. Penampilan Anastasia berhasil mencuri perhatian para dewan juri dengan teknik vokal yang matang dan pembawaan emosional yang kuat. Penampilannya tak hanya membuat kagum juri, tapi juga mendapat sambutan hangat dari para penonton yang hadir. ”Saya sangat bersyukur dan terharu bisa meraih juara 1. Ini bukan hanya kemenangan saya pribadi, tapi juga kemenangan bagi semua yang telah mendukung saya—keluarga, teman-teman, dan tentunya USM. Terima kasih juga untuk Mas Wahyu Triasmoro Jati yang telah sabar melatih saya setiap hari di kemahasiswaan,” ujar Anastasia dengan mata berbinar usai pengumuman pemenang. Capaian gemilang ini mendapat sambutan positif dari pimpinan kampus. Dr Muhammad Junaidi SHI MH, selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan USM, menyampaikan apresiasinya. ”Kami bangga atas pencapaian Anastasia. Dia adalah sosok mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga luar biasa di bidang seni. Prestasinya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa USM mampu bersaing di tingkat regional bahkan nasional. Kami akan terus mendukung langkahnya ke jenjang selanjutnya,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan Sudarmono MM, Kasubag Minat Bakat dan Informasi Kemahasiswaan USM, yang selama ini mendampingi Anastasia selama latihan. ”Anastasia memang luar biasa. Dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mampu membawakan lagu dengan sangat baik hingga dinikmati oleh semua yang hadir. Setiap hari ia berlatih dengan penuh semangat di kemahasiswaan, dibimbing langsung oleh Mas Wahyu Triasmoro Jati. Hasilnya benar-benar memuaskan dan membanggakan,” ujarnya. Dengan kemenangan ini, Anastasia Desti Putri Ivanka akan melangkah lebih jauh mewakili Kota Semarang dalam ajang Bintang Radio tingkat yang lebih tinggi. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa USM untuk terus mengembangkan potensi, semangat, dan kreativitas. (*)